Telkom Indonesia Menjalin Mitra Bersama Chat SDK Qiscus Dalam Menghadapi Disrupsi Digital

Seperti yang sudah kalian ketahui, di Asia Tenggara (SEA), terutama di Indonesia, disrupsi digital telah mempengaruhi banyak sektor, baik di bidang: properti, perbankan, asuransi, bahkan industri otomotif. Pemerintah Indonesia, menurut Jakarta Globe, telah mencoba banyak cara untuk mengakomodasi fenomena ini. Misalnya, menyesuaikan kebijakan sembari menjaga kebebasan rakyat untuk berinovasi dan menemukan peluang untuk mengembangkan diri.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa Indonesia menjadi lahan basah bagi para pebisnis karena Indonesia surplus secara demografis. Selain itu, ditambah pertumbuhan ekonomi yang telah mencapai 5% di tahun 2017. Tidak hanya itu, SEA dianggap sebagai kawasan dengan ketergantungan dan penggunaan media sosial yang cukup besar.


Berdasarkan data 53% masyarakat di Asia Tenggara menggunakan internet dan sebagian besar tinggal di Indonesia. Pasar digital saat ini pun menjangkau hingga 83 juta pengguna hanya untuk Indonesia saja.

Masa depan AI di Indonesia

Artificial Intelligence (AI) telah menjadi topik hangat dalam beberapa hari ini di kawasan SEA, secara implisit menunjukkan bahwa di kawasan ini, meski dengan adaptasi yang lamban, industri masih dapat menerima disrupsi dengan sangat baik. Pasar AI dikatakan masif di negara ini jika mempertimbangkan rasio jumlah penduduk dan jumlah pengguna internet. Selain itu, kemajuan AI dapat membantu meningkatkan produktivitas bisnis baik secara dana dan waktu.

Menurut Techcrunch, Indonesia telah diakui sebagai salah satu lahan basah untuk jaringan sosial online, dengan jumlah pengguna hampir setengah dari populasi. Sebagai contoh, Kata.ai (sebuah startup yang mengembangkan chatbot berbasis bahasa) berhasil mengumpulkan pendapatan hingga tiga juta dollar. Kata.ai memanfaatkan potensi keterlibatan pelanggan dan membawanya ke industri lain, sehingga pelanggan dapat menjangkau pasar secara efisien.


Selain itu, sebagai pusat kegiatan ekonomi di SEA dengan komposisi demografi yang besar Indonesia diuntungkan dari fenomena ini. Sachin Chitturu dari McKinsey & Company mengatakan bahwa Indonesia dengan populasi lebih dari 250 juta orang harus memiliki peningkatan biaya yang lebih baik, bahkan dari Singapura yang hanya menampung lima juta orang di negara ini.

Salah satu faktor utama mengapa AI dapat berkembang dengan baik di Indonesia adalah pertumbuhan pasar online. Para pebisnis telah mendigitalkan sistem mereka dan dengan menggunakan AI dapat membantu meningkatkan pendapatan. Selain itu, pada saat yang sama AI dapat mengurangi biaya penggunaan manusia. Statistik di Indonesia menunjukkan bahwa dalam dekade terakhir, e-commerce di negara ini telah berkembang hingga 17%, mencapai 26,2 juta unit.

Telkom Indonesia dan Strateginya dalam Menghadapi Disrupsi Digital

Salah satu industri yang sangat terpengaruh oleh gangguan ini adalah sektor telekomunikasi. Bahkan Telkom Indonesia, sebagai raksasa telekomunikasi di negeri ini, juga tidak bisa terhindar dari disrupsi digital. Meskipun, mereka telah memperluas jangkauan mereka ke lapisan terluar Indonesia, mereka tetap berusaha untuk maju. Oleh karena itu, Telkom mulai merangkul teknologi AI dan Chat SDK dengan bekerjasama berbagai mitra. Salah satunya, Qiscus.

Sebagai klien Qiscus, Telkom Indonesia telah berhasil meraih beberapa penghargaan di tahun 2017, seperti:
  • Penyedia Aplikasi TOP Cloud,
  • TOP Solusi Bisnis,
  • TOP Big Data Solution,
  • TOP Layanan Data Pusat, dan
  • TOP IT Software Development Award.
Hal Ini menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia sangat mempercayai Telkom Indonesia sebagai penyedia layanan telekomunikasi mereka.

Inovasi bisnis digital Telkom mampu memimpin perusahaan mencapai pendapatan hingga 64,02 triliun rupiah. Dibandingkan tahun 2016, pada 2017, mereka mampu tumbuh 13,5% hanya dengan pendapatan saja. Selain itu, separuh pendapatan terutama berasal dari lini bisnis layanan TI dan Internet mereka. Menurut Brand Finance (konsultan merek London) nilai Telkom Indonesia saat ini mencapai 2,62 juta dollar. Lebih dari itu, jika melihat harga sahamnya kita akan melihat bahwa harga saham Telkom selalu meningkat dengan pasti.


Pencapaian ini bukan tanpa alasan, Muhammad Awaluddin (Enterprise & Business Service Executive Telkom Indonesia) mengatakan bahwa ini hanya bisa diraih berkat digital. Dia menyadari bahwa menjadi perusahaan raksasa saja tidaklah cukup. Sebuah perusahaan akan terus mengalami banyak kendala, dari waktu ke waktu. Mereka ingin membangun hubungan yang lebih baik dengan pelanggan dan ikut serta untuk memberikan koneksi yang nyata.

Qiscus


Di sisi lain, Indonesia pun sudah mulai ramah dalam hal Chat dan AI. Banyak sektor yang mengembangkan layanan chat mereka melalui Qiscus seperti: Ruangguru (sebuah startup khusus pendidikan online), Halodoc (di bidang kesehatan), dan Telkom Kiwari (aplikasi messenger dari Telkom Group).

Saat ini, melihat bangkitnya popularitas chat dan AI karena ada begitu banyak sektor atau bidang yang dapat ditingkatkan lebih lanjut dengan bantuan keduanya. Para pelaku bisnis perlu menggali lebih dalam dan mencari pengetahuan dari setiap peluang yang mungkin terjadi. Oleh karena itu Qiscus (sebagai perusahaan teknologi di Indonesia) mengadakan TechTalk#103 secara khusus untuk membicarakan chat dan AI.

TechTalk #103 akan bertemakan: Things about Chat and AI that C-Levels Must Know. Dalam TechTalk #103 akan membahas lebih mendalam terkait urgensi dan dampak implementasi dari chat dan AI dalam sebuah bisnis dan tim manajemen yang harus diketahui oleh para jajaran atas sebuah perusahaan (C-levels). Program Techtalk #103 ini akan diulas lebih jauh oleh Qiscus dan para pemateri dari IBM Indonesia, Kata.ai, dan Eva.id. Acara akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 20 Januari 2018 di D.Lab, Menteng, Jakarta pada pukul 09.30-11.30 WIB.

*sumber gambar: blog.qiscus.com

Related Posts →


Open Disqus Close Disqus

This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalise ads and to analyse traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Blogger Cookies